Friday, August 27, 2010

The Chosen One - Maher Zain.,



Firman Allah s.w.t.yang bermaksud :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”

(Surah Al-Ahzab: 21)



Al-Quran : Mukjizat Tehebat.,



Dewasa ini, kalau kita lihat pelbagai ragam umat manusia dipertontonkan pada kita saban hari. Ramai yang berperlakuan baik, namun semakin banyak pula yang berbuat jahat dan bergelumang dengan kemungkaran. Suatu fenomena yang kian merisaukan jiwa, menggundahkan hati, pabila makin banyak bibit-bibit alamat kiamat kecil yang hadir di segenap ceruk kehidupan kita. Tumbuhnya bagaikan cendawan yang meliar selepas turunnya hujan. Moga Allah kan menjaga kita di setiap saat nyawa ini masih dikandung jasad yang fana ini.

Al-Quran, suatu kitab yang turun-temurun diwariskan, dari zaman hidupnya Nabi Muhammad s.a.w., para sahabat, sehinggalah kepada kita iaitu umat akhir zaman ini. Seperti yang kita sedia maklum, al-Quran ini adalah merupakan mukjizat terbesar Baginda, yang dijanjikan tak akan berubah sehinggalah hari Qiamat. Juga sebagai suatu rujukan agung andai berlaku perselisihan, disamping sunnah Baginda.

Kita akui dan mengangkat 'Kepercayaan Kepada Kitab-kitab' sebagai salah satu akujanji dalam Rukun Iman kita. Namun, betapa ikhlas dan jujurnya kita dalam menghayati dan mempraktikan akujanji tersebut. Sama-sama kita muhasabah diri kita, di setiap masa, di setiap saat.


Sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang artinya:

“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

(Hadith Riwayat Bukhari)



Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:

i) Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.”(At-Tibyan, hal. 58-59)

ii) Membacanya dengan perlahan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosulullah s.a.w. bersabda, yang artinya:“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR: Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)

Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR: Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.

iii) Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Allah s.w.t. menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS: Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.

iv) Memperelokkan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w., yang artinya: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR: Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.

v) Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Allah s.w.t. berfirman, yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS: An-Nahl: 98)

Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.

Rosulullah s.a.w. bersabda, yang artinya: “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR: Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim).




Friday, August 13, 2010

Saya Sedang Berpuasa.,



Alhamdulillah, hari ini sudah masuk ke 03 Ramadhan 1431H. tak terlambat lagi rasanya untuk saya ucapkan 'Marhaban ya Ramadhan'. Selamat datang buat bulan yang dinanti-nanti setelah sekian lamanya. Moga Ramadhan ini lebih baik dari sebelumnya, insyaAllah. Dan harapnya, moga Allah panjangkan umur kita supaya kita bisa bertemu Ramadhan yang berikutnya.


Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Diwajibkan atasmu melakukan puasa sebagaimana diwajibkan atas ummat sebelummu, agar supaya kamu menjadi orang yang bertakwa."
(Surah Al-Baqarah : Ayat 183)

Kalau dahulu, di zaman persekolahan ketika belajar bab puasa, yang dieertikan dengan puasa ini adalah menahan diri dari lapar dan dahaga dari terbit fajar sehinggalah terbenamnya matahari. Betul tak? Menahan lapar dan dahaga itu memang tidak dapat disangkal lagi, namun kita sering lupa untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan yang dusta. Ada orang berpuasa, tetapi masih mengumpat, masih sibuk membuka aib orang, masih membazir, masih berbohong, masih lalai dari suruhan Allah. Puasa pada fizikal, namun pada rohaninya tidak. Sepatutnya ini tidak berlaku, jika kita betul-betul faham dengan erti puasa. Moga-moga kita dijauhkan.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang mafhumnya :
"Barangsiapa yang idak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa), maka Allah tidak memerlukan lapar dan hausnya."
(Hadith Riwayat Al-Bukhari)

Selain dari berempati dan bersimpati nasib-nasib mereka yang kurang bernasib baik (dengan menahan lapar dan dahaga), kita juga amat digalakkan untuk cuba memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Di dalam bulan Ramadhan, tiada lagi syaitan, mahupun iblis. Yang tinggal cuma apa? Cuma NAFSU kita. Nafsu ini ada dua. Satu nafsu yang baik, satu nafsu yang jahat. Keduanya sering berlumba-lumba. Yang mana yang kuat, yang itulah yang akan menguasai diri kita. Apapun jua, semuanya berbalik pada iman kita. Kita jualah yang akan menentukan nafsu mana yang akan mendominasi. Jika yang baik mendominasi, alhamdulillah. Segala amal dan 'ibadah kita insyaAllah akan jadi yang terbaik. Namun jika kita gagal mengawal nafsu, dan membiarkannya pula menguasai diri kita, na'uzubillah. Sama-sama kita muhasabah diri, dari sehari ke sehari. Cuba lazimi ayat 'Saya Sedang Berpuasa', setiap kali diduga dengan perbuatan manupun ucapan yang dusta. Moga ianya sedikit sebanyk membantu diri kita untuk mengawal nafsu kita.


Sabda Nabi s.a.w. lagi yang bermaksud :
"Tidurnya orang yang puasa itu tetap dalam 'IBADAT dan diamnya dianggap TASBIH dan amalnya pula diLIPATGANDAkan dan do'anya MUSTAJAB, dan dosanya diAMPUNkan."
(Hadith Riwayat Al-Baihaqi)

Jika kita amati maksud hadith Nabi diatas, betapa beruntungnya kita dianugerahkan dengan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan. Tidur tidak sia-sia, diam tidak mengundang bencana, sedikit amal cuma pun sudah besar impaknya. Do'a lebih mustajab, tidak terhijab, dan dosa-dosa kita yang menggunung sedikit sebanyak diampunkan oleh-Nya. Beruntungnya kita kan? Cuma mungkin kita tidak sedar. Jangan lupa panjatkan rasa syukur kita buat-Nya, selagi hayat masih ada.

Pabila tiba waktu untuk iftar, jangan lupa untuk didahului dengan 'Bismillahirrahmanirrahim'. Itukan yang terbaik. Mulai dengan yang manis-manis dulu. Ikut resam Nabi s.a.w. kita dahulu, iftar dengan kurma dan air kosong. Bila tiba masa untuk santapan yang berat, nasi contohnya, berpada-padalah. Berbuka dengan ala kadar, bukan dengan nafsu semata. Jangan mengamuk ketika berbuka, bagaikan tidak menjamah untuk seribu tahun lamanya. Adab makan perlu dijaga. Kita kan orang Islam. Perlu jadi conth pada yang lain. Dan yang terakhirnya, jangan membazir ya. Itu amalan syaitan. Lagi satu pesan Nabi yang mesti diingat, CEPATkan berbuka, LEWATkan bersahur.


Yang ini, yang terpenting. Usai iftar, solat jemaah, dan juga tarawikh, jangan dilupa untuk berniat puasa untuk keesokannya. Takut nanti terlupa. Lebih baik diniatkan untuk sebulan sekaligus, sebagai langkah berjaga-jaga.


Aizat Zainudin,
>>Sampaikan Walau Satu Ayat<<
~Puasa Molek-molek Deh~


Thursday, August 12, 2010

Ketika Allah Memilihmu Untukku.,




Ketika Allah Memilihmu Untukku..


Padamu yang Allah pilihkan dalam hidupku..
Ingin ku beri tahu padamu..
Aku hidup dan besar dari keluarga bahagia..
Orang tua yg begitu sempurna..
Dengan cinta yg begitu membuncah..
Aku dibesarkan dgn limpahan kasih yang tak terhingga..
Maka, padamu ku katakan..
Saat Allah memilihmu dalam hidupku,
Maka saat itu Dia berharap, kau pun sanggup melimpahkan cinta padaku..
Memperlakukanku dgn sayang yang begitu indah..


Padamu yang Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, aku hanya wanita biasa dengan begitu banyak kekurangan dalam diriku,
Aku bukanlah wanita sempurna, seperti yang mungkin kau harapkan..
Maka, ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Dia ingin menyempurnakan kekuranganku dgn keberadaanmu.
Dan aku tahu, Kaupun bukanlah laki-laki yang sempurna..
Dan ku berharap ketidaksempurnaanku mampu menyempurnakan dirimu..
Karena kelak kita akan satu..
Aibmu adalah aibku, dan indahmu adalah indahku,
Kau dan aku akan menjadi 'kita'..


Padamu yg Allah pilihkan untukku..
Ketahuilah, sejak kecil Allah telah menempa diriku dgn ilmu dan tarbiyah,
Membentukku menjadi wanita yg mencintai Rabbnya..
Maka ketika Dia memilihmu untukku,
Maka saat itu, Allah mengetahui bahwa kaupun telah menempa dirimu dgn ilmuNya.. Maka gandeng tanganku dalam mengibarkan panji-panji dakwah dalam hidup kita..
Itulah visi pernikahan kita..
Ibadah pada-Nya ta'ala..


Padamu yg Allah tetapkan sebagai nahkodaku..
Ingatlah.. Aku adalah mahlukNya dari tulang rusuk yang paling bengkok..
Ada kalanya aku akan begitu membuatmu marah..
Maka, ketahuilah.. Saat itu Dia menghendaki kau menasihatiku dengan hikmah,
Sungguh hatiku tetaplah wanita yg lemah pada kelembutan..
Namun jangan kau coba meluruskanku, karena aku akan patah..
Tapi jangan pula membiarkanku begitu saja, karena akan selamanya aku salah..
Namun tatap mataku, tersenyumlah..
Tenangkan aku dgn genggaman tanganmu..
Dan nasihati aku dgn bijak dan hikmah..
Niscaya, kau akan menemukanku tersungkur menangis di pangkuanmu..
Maka ketika itu, kau kembali memiliki hatiku..


Padamu yang Allah tetapkan sebagai atap hunianku..
Ketahuilah, ketika ijab atas namaku telah kau lontarkan..
Maka dimataku kau adalah yang terindah,
Kata2mu adalah titah untukku,
Selama tak bermaksiat pada Allah, akan ku penuhi semua perintahmu..
Maka kalau kau berkenan ku meminta..
Jadilah hunian yg indah, yang kokoh…
Yang mampu membuatku dan anak-anak kita nyaman dan aman di dalamnya..


Padamu yang Allah pilih menjadi penopang hidupku…
Dalam istana kecil kita akan hadir buah hati-buah hati kita..
Maka didiklah mereka menjadi generasi yg dirindukan syurga..
Yang di pundaknya akan diisi dgn amanah-amanah dakwah,
Yang ruh dan jiwanya selalu merindukan jihad..
Yang darahnya mengalir darah syuhada..
Dan ku yakin dari tanganmu yg penuh berkah, kau mampu membentuk mereka..
Dengan hatimu yg penuh cinta, kau mampu merengkuh hati mereka..
Dan aku akan selalu jatuh cinta padamu..


Padamu yang Allah pilih sebagai imamku…
Ku memohon padamu.. Ridholah padaku,
Sungguh Ridhomu adalah Ridho Ilahi Rabbi..
Mudahkanlah jalanku ke Surga-Nya..
Karena bagiku kau adalah kunci Surgaku..


( Oleh Aztriana 180610/ 01'50 Makassar.. ^_^v )


Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Rasulullah s.a.w. bersabda : "Seorang perempuan jika meninggal dan suaminya meredhoinya, maka dia akan masuk surga."
(Hadith Riwayat Ahmad dan Thabrani)


* Entry ini khas saya postkn atas permintaan seorang sahabat saya, yang berhajat untuk berkongsi mesej yang dibawakan oleh penulis untuk anda semua di luar sana. Barangkali ada yang pernah membacanya lewat di laman sosial Facebook, namun apa salahnya untuk membaca untuk kali keduanya dengan lebih teliti dalam menghayatinya. Moga mesej baik yang ingin disampaikan penulis berhasil. InsyaAllah, buat manfaat bersama. Salam Ramadhan.,



Monday, August 2, 2010

Kenapa Allah Cuma Beri Sekeping Hati Pada Kita?.,



Adakah Anda Tahu?

Allah memberi kita dua kaki untuk berjalan..
Dua tangan untuk memegang..
Dua telinga untuk mendengar dan,
Dua mata untuk melihat...
Tetapi mengapa Allah hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita..?
Kerana Allah telah memberikan sekeping lagi hati pada SESEORANG untuk kita mencarinya.
Itulah namanya CINTA...
Moga cinta kita yang paling agung hanya pada-NYA YANG ESA,
disamping cinta kita pada makhluk-NYA.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk semuanya berpasangan, samaada dari yang ditumbuhkan oleh bumi, atau dari diri mereka sendiri, ataupun dari apa yang mereka tidak mengetahuinya."
(Surah Yaasin : Ayat 36)

Dapat kita fahami dari firman Allah ini, setiap 'apa', 'siapa', 'kejadian', mahupun 'sifat' di muka bumi ini telah diciptakan berpasang-pasangan oleh-Nya. Laksana hitam dan putih, senang dan susah, lapang dan sempit, kaya dan miskin, muda dan tua, hidup dan mati, kejayaan dan kegagalan, kedua tangan dan kaki kita, pancaindera kita, lelaki dan wanita. Bahkan dalam penciptaan manusia itu sendiri pun dapat dilihat hukum berpasang-pasangan ini. Cuba lihat, benih manusia iaitu sperma juga dipasangkan bersama dengan ovum (telur), untuk berlakunya persenyawaan. Otak kita ada dua hemisfera (cerebrum), paru-paru kita ada dua belah (kiri dan kanan), jantung kita terbahagi dua (kiri dan kanan), hati (liver) juga begitu. Samalah juga dengan buah pinggang kita.

Kenapa Allah jadikan sesuatu itu berpasang-pasangan? Wallahu'alam, hanya Allah yang lebih Mengetahui akan tadbir dan taqdir penciptaan alam ini. Yang pasti, tentu saja bagi-Nya Dia lebih tahu jika sesuatu itu berpasangan, ianya lebih baik buat kita, iaitu hamba-hambaNya.

Lihat saja pada fitrah manusia. Terlalu banyak betulnya hukum berpasangan Allah ini, jika kita teliti di setiap sudut kehidupan kita ini. Perasaan kasih itu memerlukan seorang lagi individu untuk mendapat 'sayang'nya. Begitu juga dengan perasaan mencintai dan dicintai, ataupun lebih dikenali dengan 'sense of belongings'. Manusia punya fitrah semulajadi dalam keharuan perasaaannya. Ada rasa cinta dalam dirinya yang ingin diberi pada seseorang, namun dalam masa yang sama dirinya juga mendambakan perasaan 'cinta' itu daripada seseorang. Masakan manusia bisa me'rasa' cinta bilamana dirinya keseorangan? Ya, dia juga gak bisa untuk mem'beri' cinta itu pabila dia hanya cuma seorang. Fitrah manusia memang begitu, memerlukan seseorang buat menjadi pasangan hidupnya. Tiada siapa di dunia ini yang pantas untuk bensendirian, sehinggakan jika kita lihat ada orang yang sanggup mengorbankan jiwa dan raganya semata-mata demi pasangannya.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
"Dan tiap-tiap jenis Kami ciptakan berpasangan, supaya Kami dan mengingati (kekuasaan Kami dan mentauhidkan Kami)."
(Surah Ad-Dzariyyat : Ayat 49)

Kita soroti kembali saat Nabi Adam a.s. diciptakan. Dijadikannya sesempurna makhluk, dijunjungi oleh Malaikat, tinggal pula di syurga, yang penuh dan lengkap dengan segala bentuk kenikmatan dan kemewahan. Kiranya kalau diikut logik, pasti saja Nabi Adam a.s. akan merasa aman dan tenteram untuk meraih segalanya di sana, namun sampai suatu tika dimana Allah s.w.t. taqdirkan hatinya menjadi gelisah, dan merasa seakan-akan ada sesuatu yang masih belum lengkap. Di saat itu Allah tahu, Nabi Adam a.s. memerlukan seseorang sebagai teman hidupnya, yang mana peristiwa ini membawa kepada penciptaan Hawa, dari tulang rusuk Nabi Adam a.s. sendiri. Cuba bayangkan itu perihalnya di syurga. Apatahlagi kita yang di dunia ini.

Kerana Sayang

Jangan tinggalkan orang yang kita SAYANG untuk orang yang kita SUKA,
kerana orang yang kita SUKA akan tinggalkan kita untuk orang yang mereka SAYANG..
Jangan cuba dapatkan apa yang kita SAYANG,
tapi SAYANGlah dengan apa yang kita ada sebelum kita kehilangan apa yang kita SAYANG,
kerana orang yang SAYANGkan kita mungkin orang yang sebenarnya kita SAYANG..
Lebih baik bersama dengan orang yang SAYANGkan kita daripada orang yang kita SAYANG,
kerana orang yang kita SAYANG mungkin hanya SUKAkan kita tanpa rasa SAYANG.

Ada seorang sahabat tanya saya, apa perbezaan antara suka & sayang? Emm, saya sendiri pun susah nak jawab. Sebab ia agak subjektif, dan masing-masing dari kita punya definisi tersendiri untuk keduanya.

Jawapan saya?

Suka ini cuma satu perasaan yang sementara, sedangkan sayang ini untuk selamanya. Kita suka sesorang itu kebiasaannya hanya kerna suatu kelebihan, sifatnya yang baik, yang mana bila ianya telah tiada perasaan suka itu akan hilang. Sayang pula bersandar pada individu, tidak terbatas pada kelebihannya, tetapi juga kekurangannya. Kita menyayanginya dan menerima dia seadanya. Walau di saat dia jatuh mahupun naik, sayang kita tetap ada untuknya. Suka dan sayang juga tidak terbatas pada seorang individu, kerna ia boleh ada untuk lebih dari seorang. Cuma suka ini lebih cenderung untuk bertukar-tukar, sedangkan sayang ini tidak. Suka ini kurang setia sedangkan sayang ini lebih setia. Untuk sayang, kita sanggup bersamanya di saat susah dan senang. Kadangkala kita tak sedar ada orang yang sayangkan kita, sehinggakan sampai suatu masa hanya dia yang ada tika semua orang yang kita suka tinggalkan kita di saat kita susah. Senang untuk dapatkan suka, susah untuk dapatkan sayang, tetapi pilihlah yang sayang kerna ianya berkekalan. Hargailah mereka yang TERSAYANG.,

(^______________^)


Aizat Zainudin,
>>Sampaikan Walau Satu Ayat<<



Related Posts with Thumbnails